Demo BEM yang Dibubarkan Dosen Pakai Sapu Berujung Pelaporan

Demo BEM yang Dibubarkan Dosen Pakai Sapu Berujung Pelaporan Perdana Menteri Universitas Turnojoyo (Unijaya) Bontang akhirnya terbuka dengan perilaku demonstran yang berujung pada laporan mahasiswa akibat perilaku opresif salah satu pengajar.

Demo BEM yang Dibubarkan Dosen Pakai Sapu Berujung Pelaporan

Gsebsscresult2018 – Perdana Menteri Unijaya Birha Futahen terkejut melihat puluhan mahasiswa berdatangan ke Badan Mahasiswa (BEM) Unijaya dengan membawa spanduk berbagai tuntutan, bahkan tanpa sepengetahuan kampus. aku mengakui.

Pasalnya, terhitung sejak 20 September tahun lalu, permohonan yang diajukan mahasiswa tersebut telah dijawab lengkap dengan surat nomor 238/UNIJAYA-Btg/IX/2021.

Baca Juga : Tim UGM Teliti tentang Fakta-fakta Santet

Seorang mantan anggota DPRD Bontang mengatakan, persoalan itu sebenarnya bisa dibicarakan di kampus. Hal ini disebabkan lambatnya respon terhadap situasi yang mempengaruhi prestasi akademik seorang siswa.

Perilaku mahasiswa ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang terjadi di lingkungan kampus. Mahasiswa semester akhir belum mendapatkan Kartu Hasil Belajar (KHS). Selain itu, beberapa siswa belum mendapatkan Kartu Rencana Studi (KRS).

Dijelaskannya, permasalahan internal pengajar yang memegang nilai mahasiswa semester delapan itu sudah teratasi. Ada dua KHS di semester lima dan satu di semester tujuh. Dengan begitu, siswa yang tidak memiliki KHS pun bisa mengikuti pembelajaran seperti biasa.

Diketahui, BEM Unijaya berdemonstrasi di kampus kemarin (28/9). Aksi ini mengejutkan para cendekiawan kampus dan membangkitkan emosi salah satu instruktur.

Baca Juga : Sekilas Tentang Princeton University | United States

Instruktur menggunakan sapu lidi untuk membubarkan aksi kolektif. Tingkah laku instruktur tersebut dilanda oleh perlawanan siswa, yang berujung pada diskusi dan makian dari orang tersebut.

Menanggapi hal itu, Perdana Menteri Unijaya meyakini bahwa instruktur tersebut karena tidak menerima demonstrasi mahasiswa.

Alhasil, dosen yang juga Dekan Fakultas Ekonomi itu tak terima. Padahal, menurut Bilher, instruktur hanya memukul spanduk dengan sapu lidi, bukan siswa.

Ketika ditanya tentang seorang siswa yang melaporkan kekerasan oleh instruktur jahat kepada pihak berwenang, dia mengaku khawatir. Pasalnya, siswa sepenuhnya dianggap sebagai anak oleh semua guru.

Tags: ,